Oleh Martin Sihombing
Wartawan Bisnis Indonesia
Di koran kita ini, beberapa hari lalu, diberitakan harga kontrak jagung di Chicago diprediksi dapat mencapai level tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Sekitar 26 pihak yang terdiri dari trader, penasehat pertanian, dan ahli komoditas biji-bijian menyarankan pemodal agar membeli jagung.
Pada akhir pekan lalu, harga jagung telah memberikan keuntungan sebesar 1,6% kepada investor dan 81% sepanjang 2006. Harga kontrak jagung untuk pengiriman Maret akhir pekan lalu di Chicago naik US$0,06 menjadi US$3,90 per bushel.
Benar. Hal itu akibat stok jagung yang berkurang. Data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), memperlihatkan stok jagung di pasar internasional pada 2006 menurun sekitar 33 juta ton dibandingkan 2005. Stok akhir 2005 mencapai 125,6 juta ton, sedangkan tahun ini 92,7 juta ton.
“Betul. Menurunnya stok jagung di pasar internasional disebabkan meningkatnya permintaan, sementara produksi cenderung stabil,” kata General Manager PT DuPont Indonesia Mardahana.
Penurunan stok jagung itu, terjadi di negara penghasil jagung utama seperti AS, China, Uni Eropa dan Brasil terutama dalam 10 tahun terakhir. Sedangkan naiknya permintaan terutama untuk bahan baku bahan bakar etanol sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada minyak bumi yang harganya terus melambung.
“Fundamental dari peningkatan harga itu berasal dari rencana pengembangan industri etanol,” kata Jerry Gidel, analis pasar North American Risk Management Services Inc, Chicago.
Selain itu, permintaan jagung itu juga untuk memenuhi kebutuhan industri makanan maupun industri pakan ternak. Total produksi jagung di tingkat dunia 690 juta ton, 40% di antaranya kontribusi AS, 20% dari China, 7% dari Uni Eropa dan Brasil sebanyak 6%.
Sedangkan pemakaian jagung untuk etanol khususnya di AS, pada 2005 mencapai 50 juta ton atau 20% dari kebutuhan jagung nasional, sementara untuk 2006 naik menjadi 55 juta ton (22%) dan pada 2008 diperkirakan meningkat menjadi 82 juta ton (30%).
Menurut Mardahana, dengan kondisi pasar internasional seperti itu merupakan peluang bagi Indonesia meningkatkan produksi jagung dan menggenjot ekspor. “Indonesia berpeluang memasok jagung di pasar dunia," katanya.
Memang. Banyak hal yang mendukung, yakni rata-rata produksi jagung Indonesia masih rendah, sehingga masih sangat potensial untuk ditingkatkan. Di samping itu tersedianya varietas unggul hibrida, namun pemakaian masih rendah selain juga benih jagung Indonesia masih bebas dari rekayasa genetika.
Saat ini, kendati Indonesia telah melakukan ekspor jagung sebanyak 40.000 hingga 150.000 ton, impornya masih tinggi, sekitar 400.000 hingga 1,8 juta ton per tahun. Mampukah Indonesia menjadi pemasok jagung dunia?
Deptan memperkirakan potensi ekspor jagung Indonesia pada 2010 mencapai hampir dua juta ton jika laju pertumbuhan produksi nasional dapat sebesar 4,54% per tahun dalam lima tahun mendatang.
Sementara itu, Mardana memperkirakan Indonesia berpeluang ekspor jagung Indonesia terutama ke negara tetangga seperti Malaysia sebesar 2,5 juta ton, Taiwan 4,6 juta ton, Jepang 16 juta ton, Korea 8,5 juta ton, China sebanyak satu juta ton, Mesir 5,3 juta ton, Iran 2,3 juta ton, dan Arab Saudi 1,4 juta ton per tahun.
Dirjen Tanaman Pangan Deptan Sutarto Alimuso mengatakan dengan laju pertumbuhan produksi sebesar itu (4,54%) maka produksi jagung nasional selama empat tahun mendatang diperkirakan bisa mencapai 15,46 juta ton atau naik 3,33 juta ton dari 12,13 juta ton pada 2006.
”Jika kebutuhan jagung dalam negeri pada 2010 sekitar 13,55 juta ton, maka terjadi surplus 1,91 juta ton dan berpotensi diekspor," katanya.
Sutarto menyatakan laju pertumbuhan produksi jagung sebesar 4,5% per tahun itu dicapai dengan upaya peningkatan produktivitas menjadi 3%-3,5% per ha. Saat ini, produktivitas tanaman masih rendah, yakni hanya 3,4 ton per ha.
Seperti diketahui salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman jagung di dalam negeri yakni rendahnya penggunaan benih hibrida yang diyakini memiliki produktivitas 6-7 ton per ha. Saat ini pemakaian benih hibrida di dalam negeri baru 28% dari total areal tanaman jagung di Indonesia.
Kemudian varietas jagung yang banyak digunakan petani yakni jenis komposit mencapai 45%. Padahal produktivitasnya hanya 3,5 ton per ha selain itu benih jagung lokal juga masih dimanfaatkan yang mencapai 27% dengan produktivitas per hektar sebesar dua ton per ha. Pemerintah harusnya segera menangkap potensi pasar yang ada. Langkahnya, mendorong produksi jagung loka, baik untuk isi pasar dalam negeri juga untuk ekspor.
Sutarto mengatakan pemerintah sudah mempersiapakn ke arah itu. Misalnya, kata dia, untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung dalam negeri, pada 2006 pemerintah memberikan bantuan benih hiburda sebanyak 4.048 ton untuk areal seluas 270.000 ha di 133 kabupaten pada 20 provinsi.
Sedangkan pada 2007, bantuan benih hibrida akan disalurkan untuk 298 kabupaten dengan areal seluas 700.000 ha serta benih komposit di 236 kabupaten pada arela 200.000 ha.
Selain itu, juga dilakukan sejumlah upaya seperti perluasan areal tanaman dan optimalisasi pemanfaatan lahan, pengamanan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), pencegahan kehilangan hasil melalui penyiapan silo (gudang penyimpan) dan perbaikan infrastruktur irigasi.
Kemudian, kata Ketua Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Elda Adiningrat, delapan produsen benih di Tanah Air, baik swasta maupun BUMN siap meningkatkan produksi benih pada 2007 menjadi 29.930 ton dari 15.000 ton pada 2006 untuk mendukung peningkatan produksi jagung nasional.
Kita berharap, kondisi pasar jagung yang kondusif itu, seyogyanaya, pemerintah [Deptan] tidak lagi berwacana melalui program yang ada. Ayo, kamu bisa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar