Kamis, 05 Juli 2007

Bisnis karet yang menggiurkan

Tahun Produksi Kondusmi

Karet alam karet sintetis total karet alam karet sintetis total

1996 6.440 9.760 16.200 6.110 9.590 15.700
1997 6.470 10.080 16.550 6.460 10.000 16.460
1998 6.850 9.880 16.730 6.570 9.870 16.440
1999 6.872 10.336 17.208 6.646 10.188 16.834
2000 6.764 10.818 17.582 7.383 10.759 18.142
2001 7.242 10.483 17.725 7.334 10.247 17.581
2002 7.303 10.882 18.185 7.627 10.717 18.344
2003 7.976 11.390 19.366 8.003 11.397 19.400
2004 8.639 11.989 20.628 8.579 11.850 20.429
2005 8.821 12.053 20.874 9.000 11.955 20.955
*2006 7.764 10.355 18.119 7.375 10.423 17.798
Catatan: * January - October
Sumber: International Rubber Study Group (IRSG)


Sasaran jangka panjang 2025
Produksi karet mencapai 3,5 – 4 juta ton yang 25% di antaranya untuk industri dalam negeri;
Produktivitas meningkat menjadi 1.200 -1.500 kg/ha/th dan hasil kayu minimal 300 m3/ha/siklus;
Penggunaan klon unggul (85%);
Pendapatan petani menjadi US$ 2.000/KK/th dengan tingkat harga 80% dari harga FOB;
Berkembangnya industri hilir berbasis karet.
Sasaran jangka menengah (2005-2009)
1. Produksi karet mencapai 2,3 juta ton yang 10% di antaranya untuk industri dalam negeri
2. Produktivitas meningkat menjadi 800 kg/ha/th dan hasil kayu minimal 300 m3/ha/siklus
Penggunaan klon unggul (55%); (d) Pendapatan petani menjadi US$ 1.500/KK/th dengan tingkat harga 75% dari harga FOB
Berkembangnya industri hilir berbasis karet di sentra-sentra produksi karet.
Sumber: Deptan


Bisnis karet yang menggiurkan
Oleh Martin Sihombing
Wartawan Bisnis Indonesia


Dari data Freedonia, perusahaan spesialisasi untuk research yang berdiri sejak 1985 di Cleveland, AS, mengungkapkan permintaan karet dunia --alam dan sintetis-- ke depan akan terus bertumbuh.
Menurut prediksi perusahaan itu, yang tahun lalu membuka perwakilannya di China, akan terjadi kenaikan konsumsi 3,8%. Itu didorong oleh solidnya pertumbuhan produksi kendaraan dan kuatnya ekonomi global. China akan tumbuh cepat terutama industri yang berbasis karet. Pasar besar di Amerika Utara juga akan tumbuh di atas rata-rata.
Free University Belanda, dalam kajiannya, memproyeksikan pertumbuhan produksi karet dunia pada 2020 diperkirakan akan mencapai 7,8 juta ton, sedangkan konsumsi pada tahun yang sama bisa mencapai 13,47 juta ton. Dengan demikian terjadi kekurangan produksi (defisit) karet alam sebesar 5,65 juta ton.
Senada dengan itu, laporan International Rubber Study Group pada 2006 menyebutkan pada 2035 permintaan karet alam di pasar international bisa mencapai 15 juta ton atau naik dua kali lipat dari posisi 2005 yang hanya 8,5 juta ton.
Ini didorong oleh beberapa faktor a.l. karet sudah menjadi kebutuhan vital bagi kehidupan manusia sehari-hari yang terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet.
Sebut misalnya a.l. ban, conveyor belt, sabuk fender, sepatu dan sandal karet. Kemudian karet sintetik yang dulu dianggap sebagai penghambat prospek produksi karet alam ternyata saat ini kurang diminati, khususnya produsen ban, karena harga minyak yang terus naik dan kualitas karet sintetik tidak sebaik karet alam dalam hal kekenyalannya.
Selain itu juga karena faktor pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat dalam 10 tahun terakhir, terutama di China, dan India, Korea serta Brasil, yang mendorong permintaan atas karet alam, serta ditemukannya formula baru dalam pembuatan ban oleh Sumitomo Dunlop Jepang yang kandungan karet alamnya mencapai 70% dari sebelumnya hanya 30%-40%.
Sebagaimana diketahui, total volume karet alam dunia pada 2005 mencapai 8,83 juta ton yang disumbangkan dari tiga negara produsen karet alam utama yaitu Thailand sebesar 3,01 juta ton, Indonesia 2,25 juta ton dan Malaysia dengan volume produksi 1,17 juta ton, sisanya berasal dari negara Asia lainnya, Afrika dan Amerika latin. Namun beberapa tahun ke depan, Indonesia diramalkan akan menyodok posisi Thailand.
Deptan, melalui Badan Litbang, pun menegaskan agribisnis karet alam di masa datang akan mempunyai prospek yang makin cerah karena adanya kesadaran akan kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. Kecenderungan penggunaan green tyres, meningkatnya industri polimer pengguna karet serta makin langka sumber-sumber minyak bumi dan makin mahalnya harga minyak bumi sebagai bahan pembuatan karet sintetis.
Pada 2002, jumlah konsumsi karet dunia lebih tinggi dari produksi. Indonesia akan mempunyai peluang untuk menjadi produsen terbesar dunia karena negara pesaing utama seperti Thailand dan Malaysia makin kekurangan lahan dan makin sulit mendapatkan tenaga kerja yang murah sehingga keunggulan komparatif dan kompetitif Indonesia akan makin baik.
Kayu karet juga akan mempunyai prospek yang baik sebagai sumber kayu menggantikan sumber kayu asal hutan. Arah pengembangan karet ke depan lebih diwarnai oleh kandungan IPTEK dan kapital yang makin tinggi agar lebih kompetitif.
Mentan Anton Apriyantono pun mengatakan harga karet semakin membaik. Saat ini harga karet SIR 20 sekitar US$2,15 per kg setelah sempat terpuruk hingga US$0,45 per kg pada akhir 2001.
Karet alam sangat penting artinya bagi perekonomian Indonesia. Ekspor karet Indonesia menyumbang devisa negara US$2,6 miliar pada 2005 atau sekitar 5% dari pendapatan devisa nonmigas. (martin.sihombing@bisnis.co.id/redaksi@bisnis.co.id)

Tidak ada komentar: